Tuesday, 28 June 2016

PUISI (Jawabmu Dalam Tanya)



Jawabmu dalam Tanya,18.06.2016.20:25

Seakan bintang berguguran
Runtuh menyergap gempita malam
Mendengar jawabmu dalam sapaku
Rinduku pupus diterpa deretan kesunyian
Kuhitung berapa banyak bintang
Dan bunga jatuh di atas gersangnya tanah lapang
Rentetan angin, dan gemuruh topan
Samar kudengar
Jawabmu
Jawabmu
Jawabmu…
Penuhi pilunya malam

PUISI (Kematian)



Esok Hari

Hari ini kusapa mentari
Kusiram bunga pekarangan
Esok hari,
Bunga layu hiasi pelataran
Bunga-bunga disiram
Bertaburan dalam gundukkan tanah
Aku diam
Tubuhku dingin
Tiada selimut dan guling
Petikkan bunga mawar
Dan bunga baru kembang
Pengganti selimut malam
Wangi-wangian kembang
Penuhi pelataran
Dan udara malam
Dingin…
Sesak dalam himpitan tanah lapang
Dingin…
Dalam tumpukkan kembang

Monday, 27 June 2016

Puisi (Ibadah Pendosa)



IBADAH PENDOSA


Aku apa di mata Tuhan
Bahkan aku tak tau,
Apa arti sebuah keiklasan,
Yang aku tau,
Aku hanya sekadar melakukan perintah Tuhan,
Banyak yang bicara,
Ibadah itu kebutuhan,
Tapi shalatku sekadar menggugurkan kewajiban
Katanya harus khusyuk ibadahku,
Tuhan? Apa itu?
Yang ku tahu, hanya rukuk dan sujud
Katanya khusyuk itu adalah sabar dalam shalat
Boro-boro Tuhan,
Shalatku hanya sekadar daripada tidak
Katanya shalatlah dengan penuh keiklasan
Duh Tuhan,
Shalatku itu karena keterpaksaan
Aku ini apa Tuhan?
Andai kau tak perintahkan sembayang,
Lebih baik aku tidur di atas ranjang,
Aku ini apa Tuhan?
Jika tak ada pahala, dosa, surga, neraka
Pasti aku tak sudi mendengar seruanMu
Shalatku, ibadahku, karena iming-iming pahala dan surgaMu
Pantaskah aku, disebut BERIMAN?




Puisi ( KEMATIAN)



Bukan Televisi

Esok hari bukan hari ini
Detak jantung, bukan televisi
Deru langkah kaki
Hilang terganti,
Hidup bukan pengadaian
Nafas tak bisa diganti setelah ketiadaan
Nyawa adalah harga mati
Tak ada negosiasi, atau basa-basi
Nyawa adalah harga mati
Tiada asuransi atau garansi
Jantung kita bukan mesin kotak berwarna,
Jika esok aku tiada
Bumi tawanya tak hingga
Meletup-letup umpatan bagi sang pendosa
Rayap-rayap bersiap tuk berpesta
Menari-nari di atas jeritan bengis
Andai aku esok tiada,


Puisi (Abu-abu)



Abu-abu

Setitik cahaya keredupan
Remang-remang sekilas dalam luasnya lautan
Hitam dan putih dipertaruhkan
Harap udara keadilan
Timbangan tidak berat sebelah kanan
Bukan prestasi membela kebenaran
Hitam dan putih bukan kesamaran
Abu-abu bukan kewajaran
Dilema dan keputusasaan,
Menanti peradilan Tuhan