Wednesday, 15 June 2016

HEDONISME

“HEDONISME bukan persoalan “Kaya atau Miskin" Hedonisme ialah kesenangan semata, kesenangan yang bagaimana? Seseorang dikatakan hedonis ketika dalam hatinya hanya mengutamakan kesenangan duniawi saja. Dalam kehidupannya yang dia utamakan ialah kesenangan dan kebahagiaan duniawi tanpa memikirkan kehidupan akhiratnya. Jadi, tidak semua orang yang memikirkan kesenangan dan kebahagiaan bisa dikatakan hedonis. Hedonisme sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu “Hedonismos” yang berarti kesenangan. Hedonisme merupakan pandangan hidup seseorang yang menganggap orang tersebut akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak-banyaknya dan berusaha menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Dalam hedonisme kesenangan atau kenikmatan menjadi hal yang paling utama. Mungkin masih dikaji lebih mendalam lagi pengertian apa sebenarnya hedonisme? Apa benar orang yang memikirkan dunia tetapi juga memikirkan akhiratnya dia akan terbebas dari kata hedonisme? Jawabanya ialah, belum tentu. Orang yang memikirkan akhirat pun terkadang terjebak dalam hedonisme itu sendiri, ketika ia masih mengutamakan kesenangan duniawi. Perlu kita ketahui, hedonisme itu mencakup lingkup yang sangat lah luas. Orang yang membeli mobil dengan harga 1 miliar, belum tentu ia termasuk golongan hedonis. Sedangkan orang miskin yang hutang sana-sini hanya untuk membeli sebuah sepeda, belum tentu ia tidak hedonis. Hedonis ini, bukan masalah kaya dan miskin lagi, lebih luas dari sekedar urusan kekayaan. Dalam ilmu tasawuf, kita dikatakan hedonisme ketika kita tidak lagi merasa bersyukur kepada Tuhan, maka kita telah hedonis. Hedonis ini tidak mengenal si kaya ataupun si miskin, tetapi ketika sering mengeluh dengan keadaan yang sekarang , berarti ia telah hedonis. Dikatakan hedonis ketika dalam hatinya lebih senang dengan kebahagiaan yang fana, misalnya saja: ingin tidur di kasur yang empuk dan mengeluh ketika tidur hanya beralaskan tikar, mengeluh karena hanya makan ikan asin padahal ia ingin makan dengan ikan bakar. Orang yang hatinya bebas dari hedonis ialah seseorang yang dalam hatinya ia selalu bersyukur atas nikmat Tuhan, hari ini makan nasi dengan lauk tempe sudah bersyukur karena bisa makan dan Alhamdulillah kalau besok makan dengan ayam panggang, bukan mengeluh dan menyalahkan Tuhan. Tetapi orang kaya yang mempunyai kasur empuk, belum tentu ia hedonis ketika ia bisa bersyukur kepada Tuhan. Orang kaya yang tidak hedonis ialah mereka yang bisa tidur di kasur empuk akan tetapi ia tidak mempermasalahkan ketika harus tidur hanya di atas selembar tikar. Bersyukur atas segala limpahan yang Tuhan berikan kepada kita, nikmati segala yang Tuhan berikan kepada kita tanpa harus banyak mengeluh, insyaallah jika kita menjadi orang yang pandai bersyukur kita akan jauh menjadi hedonisme. Selain bersyukur, apakah agama dapat mencegah kita dari hedonis? Agama yang seperti apa? Gereja yang tinggi menjulang? Masjid-masjid yang berdiri megah, atau agama yang seperti apa? Saya rasa, di era sekarang ini dalam beragama pun telah mengajarkan kita untuk ber-hedonis, bagaimana bisa kita menjadikan agama sebagai banteng untuk terhindar dari hedonisme itu sendiri, ketika dalam beragama pun telah mengajarkan kita untuk hedonis. Dalam ilmu tasawuf, lawan kata dari hedonis ialah sikap zuhud, jadi bersikaplah zuhud ketika kita ingin jauh dari hedonis. Ketika kita bicara mengenai hedonis, maka tak jauh-jauh yang terlintas di pikiran kita ialah mengenai gaya hidup atau life stayle. Enggel, dalam Eniatun berpendapat bahwa life stayle merupakan fungsi dari seluruh kepribadian, motivasi, dan hasil belajar yang ada dalam diri individu. Gaya hidup merupakan pola hidup seseorang dalam kehidupan sehari-hari yang dinyatakan dalam kegiatan, minat, dan berpendapat atau opini yang bersangkutan. Jadi, gaya hidup melukiskan “ keseluruhan pribadi” yang berinteraksi dengan lingkungan. Hedonis dan life stayle memiliki keterkaitan sangat erat antara satu dengan yang lainnya. Dimana orang yang memiliki gaya hidup mewah dan bermegah-megah akan sangat dekat dengan hedonis. Hirscman dan Halbroak (Kasali, 1998) menyatakan bahwa hedonis merupakan kecenderungan konsumen menggunakan produk untuk berfantsi dan menerima getaran-getaran emosi,memperoleh kesenangan-kessenangan duniawi sehingga dapat diketahui dari produk-produk yang mengutamakan pada manfaat hedonis. Hedonis ialah gaya hidup yang merupakan ajakan banyak orang memasuki budaya konsumtif yang mengarah pada suatu ekspresi akan situasi, pengalaman hidup,nilai-nilai sikap dan harapan, tujuannya adalah mencari kesenangan dan menghindari kesakitan dengan cara lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Berbicara antara kesenangan dan hedonis, sebenarnya Tuhan telah menganugerahkan kepada manusia secara alamiah rasa ingin nyaman, aman dan damai. Menurut Sigmun Freud, dalam diri manusia ini dibagi menjadi 3, yaitu id, ego dan superego. Dimana id ini adalah selalu menginginkan hal-hal yang bersifat menyenangkan. Dalam agama id ini biasa kita kenal dengan istilah nafsu. Di mana id ini selalu menginginkan sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan, keamanan, kenyamanan dan semua hal yang membuat hati ini senang dan gembira. Tetapi selain id, dalam diri manusia juga ada ego dimana letaknya ialah di dalam pikiran. Fungsi ego ini adalah untuk berfikir apa yang dikatakan oleh id tersebut sebaiknya bagaimana dan benar atau salah. Ego ini memiliki sifat kadang salah dan kadang benar, karena ego ini terletak di otak. Selanjutnya ialah superego, superego dalam diri mausia memiliki fungsi sebagai pengontrol atau penyaring id, dan ego. Di mana superego ini terletak dalam hati, sehingga selalu tahu mana yang benar dan mana yang salah dan tidak pernah salah. Sejatinya manusia secara alami memang menginginkan rasa keamanan dan kebahagiaan, akan tetapi ada superego sebagai penyaring, kebahagiaan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh setiap manusia, keamanan yang seperti apa yang dibutuhkan manusia, dan gaya hidup seperti apa yang sebenarnya membuat bahagia, hanya hati yang tahu, dan tanyakan itu pada masing-masing yang memiliki hati. Kita tak perlu banyak mebicarakan siapa yang hedonis di dunia ini, siapa saja orang kaya yang hedonis di dunia ini, dan siapa saja orang kaya akan tetapi tidak hedonis di dunia ini. Atau bahkan kita banyak mencari-cari orang miskin yang hedonisme dan orang miskin yang apa adanya. Tak perlu banyak mengira-ira dan menduga-duga siapa di sekitar kita yang hedonis dan yang tidak. Waktu kita terlalu sayang untuk hal yang seperti itu secara terus menerus. Ketika kita sedang sibuk membicarakan orang lain di luar sana, ketika kita sibuk dengan kehidupan orang lain di luar sana, jangan-jangan hedonisme itu justru berada dekat dalam diri kita, dan itu adalah kita sendiri. Ketika kita berteriak-teriak tak jelas dan menyorakkan anti hedonisme, cobalah mengaca pada diri kita jangan-jangan kita sendiri adalah bibit-bibit hedonisme. Ketika kita mendakwa banyak orang dengan sebutan dia hedonis, dia juga hedonis, jangan-jangan kita sendiri adalah hedonis sejati. Jangan terlalu banyak mengurusi orang lain, yang sulit adalah membunuh dalam diri kita ini bibit-bibit hedonis yang jangan-jangan telah lama bersemayam dalam diri kita. Panyakit hedonis ini, bukan hanya penyakit orang kaya. Seperti penjelasan yang saya paparkan di atas, bahwa siapa saja dapat terjangkit penyakit ini. Hedonismenya orang kaya ialah terlalu menTuhankan harta dan menghambur-hamburkannya, dan bermegah-megahan dalam gaya hidupnya. Sedangkan hedonismenya orang miskin ialah, khayalan-khayalan yang berada dalam pikirannya yang terlalu mengharapkan uang, dan menganggap monay is everything, dan dalam keadaannya ia tak pernah ada rasa syukur di dalamnya. Hedonis dalam agama, ialah berlomba-lomba mendirikan gedung-gedung mewah nan megah sebagai tempat ibadahnya. Manusia dalam hidupnya, ada beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan yang sangat mendasar, dan sangat penting dan harus dipenuhi disebut kebutuhan primer. Kebutuhan primer ini mencakup pangan, sandang dan papan. Selain kebutuhan yang sangat mendasar tersebut sudah terpenuhi, maka manusia juga memiliki kebutuhan lain di luar kebutuhan makan, pakaian, dan tempat tinggal. Kebutuhan tersebut kita kenal dengan kebutuhan sekunder. Seiring dengan kenaikan penghasilan, kebutuhan seorang individu akan meningkat, tidak lagi hanya persoalan makan dan tempat tinggal. Kebutuhan sekunder ini mencakup sepeda motor, mobil, televisi, telephone, atau kipas angin. Dan setelah kebutuhan sekunder tersebut terpenuhi, keinginan manusia tidak hanya cukup sampai di situ saja, selanjutnya adalah kebutuhan tersier atau kebutuhan lux. Kebutuhan ini hanya orang-orang tertentu saja yang dapat memenuhinya, seperti mobil mewah, rumah megah, dan lain sebagainya. kebutuhan tersier ini biasanya bukan faktor kepentingan akan tetapi hanya sebagai kesenangan atau life stayle saja. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan manusia semakin meningkat seiring bertambahnya penghasilan seseorang. Dan jika dikaitkan dengan kehidupan hedonisme, seseorang yang membeli sesuatu bukan karena kepentingan, dan hanya karena faktor life stayle, apakah termasuk hedonis, pembaca dapat menyimpulkannya. Dan ada 1 hal yang sangat penting untuk kita pahami, kita tidak boleh memandang orang lain dengan sudut pandang kita karena setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dengan kita. Begitu pula dengan hedonis, kita tidak boleh memandang hedonis ini dari sudut pandang kita sendiri. Selanjutnya ialah, penyebab munculnya hedonisme sendiri karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Tekhnologi sepertinya tidak hanya memberikan dampak positif bagi kita, akan tetapi ada banyak hal-hal negatif yang ikut serta di dalamnya jika kita tidak teliti. Dan memang jika dikaji lebih mendalam, hedonis ini sangatlah luas, bukan hanya masalah orang kaya atau si miskin. Rupanya tekhnologi semakin dengan mudah mengiklankan hal-hal apa saja melalui internet dan televisi. Iklan-iklan yang disuguhkan, kita dengan mudah melihatnya. Dalam iklan dan tayangan-tayangan televisi kita disugestikan dengan banyak hal, tidak hanya positif tak jarang sugesti-sugesti tersebut bersifat kesenangan atau masalah keduniawian semata. Misalnya saja, kita disugestikan bahwa ideal orang yang dianggap cantik ialah orang yang dengan kulit putih, dan kita disugestikan lagi kulit cantik itu ialah kulit yang halus tanpa bulu, dan orang yang keren ialah seseorang yang menaiki mobil mewah, motor mewah, dan lain sebagainya. Semua itu mengajarkan kita untuk lebih cinta dengan dunia dan menganggap bahwa kesenangan dunia adalah segalanya. Tak jarang juga sinetron-sinetron yang disuguhkan ialah gambaran-gambaran mewah, yang diperlihatkan ialah kehidupan-kehidupan mewah dan megah. Sehingga terbawa dalam kondisi dalam kehidupan sosial di masyarakat.

No comments:

Post a Comment