“Idola
bagi Remaja Kekinian”
Siapa idola kita saat
ini? Seorang penyair, pejuang, artis, aktris, ? Atau siapa?? Tidak aneh
di era saat ini banyak orang baik anak-anak, remaja, bahkan nenek-nenek
sekalipun memiliki sebuah tokoh panutan atau yang sering kita sebut dengan “Si
Idola”. Kita sering sekali menyebut-nyebut kata “Idola” akan tetapi kita tidak
tahu apa makna dan maksud dari kata tersebut, yak karena kita biasanya hanya
ikut-ikutan saja menyebut kata idola untuk sebutan tokoh yang kita kagumi dengan
bahasa yang “agak gaul”. Sebelum kita mengatakan siapa idola kita saat ini,
sebaiknya kita harus tahu mengenai apa itu “Idola”.
Dalam An
English-Indonesian Dictionary yang ditulis oleh John M. Echols dan Hassan
Shadily disebutkan, kata idol (kata benda) yang artinya ialah
berhala, dan kata idolatry yang
memiliki arti pemujaan terhadap berhala. Dan arti kata dari idolize adalah memberhalakan, dan
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata
idola memiliki arti berhala. Jadi, selama ini, selama kita punya idola, berarti
kita menyembah berhala? Dan, berarti kita sebagai umat yang beragama kita tidak
boleh memiliki idola, karena kita sama saja telah menyembah selain Tuhan kita?
Jangan bersedih dahulu, dan jangan mengartikan bahwa
kita sebagai seorang muslim kita tidak diperbolehkan memiliki sosok panutan
atau idola. Kita sebagai manusia, apalagi kita sebagai seorang remaja,
sangatlah wajar jika kita memiliki rasa klop, naksir, kagum, dan itu bersifat
alamiah. Kita tidak bisa menyalahkan perasaan yang datang, yang kita sebut
dengan rasa kagum. Menurut psikolog Erikson,
mengatakan bahwa keadaan ini merupakan serangan revolusi psikologis dan proses
pematangan seksual dan ketidakpastian mengenai orang dewasa yang tampak
dihadapannya.
Pernahkah kita merasa jantung kita serasa akan lepas,
ketika kita melihat orang yang kita kagumi, dan bagaimana bisa kita mengagumi
seseorang tersebut? Saya akan sedikit menjelaskan mengenai bagaimana hormon
dalam otak bekerja ketika kita menyukai, atau mengagumi seseorang. Dalam buku “Histeria
Sang Idola” karya Izzatul Jannah, yang pernah saya baca dijelaskan bahwa ketika kontak mata
sedang berlangsung, tertanam suatu kesan, kemudian otak bekerja bagaikan
komputer yang menyajikan sejumlah data dan mencocokkannya dengan sejumlah data
yang pernah terekam sebelumnya. Ia akan mencari apa yang membuat pesona itu
muncul. Kemudian fase kedua, yaitu munculnya hormon phenylethylamine (PEA) yang diproduksi otak. Inilah sebabnya
ketika terkesan oleh seseorang, secara otomatis senyum pun akan tersungging di
bibir. Secara spontan, pabrik PEA aktif bekerja ketika peluit mulai dibunyikan.
Hormon dopamine dan norepinephrine
yang terdapat dalam darah manusia, ikut bereaksi. Proses inilah yang
menyebabkan jantung kita berdegub kencang dan serasa ingin lepas, disebabkan dopamine dan norepinephrine memproduksi adrenalin atau hormon ke tegangan.
Setelah paparan di atas, sudah menemukan siapa idola
kita saat ini? Yang terpenting dan yang paling utama sebagai umat muslim dan
remaja muslim kita menjadikan Rasul sebagai tauladan yang utama. Kita sebagai
seorang muslim, tak perlu bersusah-susah harus bingung dan pusing dalam mencari
seorang teladan. Kita tak perlu terbang jauh-jauh mencari teladan di seberang
lautan sana, yang belum tentu akan berdampak baik bagi kita. Apa salahnya jika
mulai saat ini, kita menjadikan Rasulullah SAW adalah sebagai suri tauladan
kita. bukankah ada pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang”, bagaimana
bisa kita dikatakan sayang dan mencintai Rasul kita, jika kita tidak pernah mau
mengenal tentang siapa Nabi kita Muhammad Saw? Bukankah dengan kita mengikuti
Rasul sama dengan kita menaati Allah. Dalam Surat An-Nisa:80 disebutkan yang
artinya, “Barangsiapa taat pada Rasul
maka sungguh dia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa berpaling, maka Kami
tidak mengutus engkau sebagai penjaga atas mereka”. Jadi tidak ada lagi
yang perlu kita ragukan atau kita pertanyakan, mengapa kita harus mengutamakan
Rasul sebagai suri tauladan kita. Dalam surat Al-Ahzaab:21 juga disebutkan,
yang artinya”Sungguh pada diri Rasulullah
itu teladan yang baik bagi kamu, bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah
dan hari kemudian dan banyak mengingat Allah.”
Remaja gaul, remaja kekinian, adalah remaja yang
menjadikan Rasulullah adalah sebagai suri tauladan yang pertama dan utama.
Karena tidak ada kekuranganpun bahkan yang buruk yang terdapat dalam diri Nabi
Muhammad Saw, dialah potret manusia yang sempurna akhlaknya. Tidak ada larangan
untuk kita mengagumi Britney, Julia Perez, Sazkia Gotik, dan lain sebagainya
asalkan kita hanya boleh mengambil yang baik dalam diri mereka yaitu yang baik
sesuai dengan norma kebaikan dan norma agama. Lebih baik lagi, dapat menambah
sisi dan tingkat keimanan kita terhadap Allah SWT.
No comments:
Post a Comment